" Selamat Datang di HKBP Perumnas Tangerang, Ress. Perumnas Tangerang. Tuhan Yesus Memberkati & Menyertai. "
JADWAL KEBAKTIAN UMUM
Jam 06.00 Kebaktian Bahasa Batak
Jam 07.30 Kebaktian Sekolah Minggu
Jam 10.00 Kebaktian Bahasa Batak
Jam 15.30 Kebaktian Remaja
Jam 19.00 Kebaktian Bahasa Indonesia

Panduan Pelaksanaan Tahun Litbang HKBP

Posted by BALITBANG HKBP  (23 Mar. 2012)



I.  Pendahuluan.

Huria Kristen Batak Protestan adalah persekutuan orang Kristen dari segala suku dan golongan bangsa Indonesia dan segala bangsa diseluruh dunia yang dibaptis ke dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. HKBP adalah wujud nyata dari Tubuh Kristus yang mencakup segenap orang percaya dan bersaksi di seluruh dunia.

Dalam AP HKBP (2002), HKBP Merumuskan Visi-nya sebagai gereja yang berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. HKBP bertumbuh menjadi gereja yang meruntuhkan tembok-tembok eksklusifisme dengan menjauhkan pola hidup yang memarjinalkan. Tidak menutup diri dapat interaksi, komunikasi dan kerja sama. Membangun persekutuan hidup diantara sesama pelayan dan warga jemaat serta menjalin kemitraan diantara berbagai gereja, golongan masyarakat dan pemerintah. Menjadi garam dan terang dunia dengan kesediaannya untuk mendengar berbagai keluhan warga jemaat sehingga ia dapat mewujudkan perannya sebagai berkat bagi dunia. Dengan mengembangkan berbagai sumber daya manusia yang bermutu untuk memperbaiki kualitas hidup jasmani dan rohani.

Untuk melaksanakan misi menuju visi tersebut HKBP berpegang pada prinsip Melayani bukan dilayani (Markus 10:45), Menjadi garam dan terang (Matius 5:13-14), Menegakkan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Markus 16:15; Lukas 4:18-19).

Sebagai organisasi HKBP telah menetapkan berbagai program pencapaian visi dan misi tersebut dengan sebutan RIPP (Rencana Induk Pengembangan Pelayanan) yang dimulai sejak tahun 2004 oleh keputusan Synode Agung HKBP. Sejak Tahun tersebut, untuk mewujudkan visi dan misinya maka pimpinan HKBP telah menetapkan berbagai tahun-tahun pelayanan yang berorientasi pada pengembalian jatidiri HKBP sebagaimana HKBP sebelumnya yang bertumpu pada beberapa pokok yaitu bahwa HKBP adalah Tubuh Kristus yang hidup berdasarkan firman Allah yang dituangkan dalam berbagai dokumen gereja seperti konfessi dan Pengakuan iman HKBP, Buku Ende HKBP, Agenda atau liturgi kebaktian HKBP, RPP HKBP serta AP HKBP. HKBP adalah gereja yang mempunyai tangan dan kaki yang cukup panjang untuk menjangkau semua anggota jemaatnya dalam pelayanan dengan senantiasa mengedepankan pelayanan yang holistik. Bukan hanya sekedar gembala jiwa tetapi gembala manusia seutuhnya. Karena itu maka khotbah, ceramah teologi, Penelaahan Alkitab, Pekabaran Injil selalu ditingkatkan. Sebagai institusi HKBP sangat kaya karena HKBP kaya sebagai gereja. Dengannya dimaksudkan agar pusat dapat berdaya untuk memainkan perannya menjadi pelaku penyeimbang hidup ekonomi warga jemaat dan para pelayan. Membantu menumbuhkan rasa saling memiliki agar tidak ada satu pun yang tertinggal diantara sesama warga jemaat dan pelayan. Karena rasa tangung jawab sosialnya maka HKBP adalah motor penggerak gerakan oikumene.

Pengembalian Jatidiri HKBP tersebut telah dilaksanakan pada tahun 2010 sejalan dengan pelaksanaan tahun penatalayanan HKBP dan penetapannya tuntas pada tahun 2011 sejalan dengan Jubileum 150 tahun HKBP. Kini memasuki tahun 2012 dicanangkan sebagai tahun evaluasi dan pengembangan jati diri HKBP yang berorientasi pada proses pelayanan menuju tahun 2061.


II. Latar Belakang.

Hidup bergereja di masa depan tidak akan lebih mudah. Mengembangkan gereja yang melayani, yang menjadi berkat juga tidak akan semakin mudah malah sebaliknya akan semakin sulit. Sebagaimana nubuat pada 2 Timotius 4:4-5, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”. Sepertinya era agama telah berlalu dan diganti dengan era ilmu pengetahuan, era mengedepankan iman telah terancam digantikan era mengedepankan otak, akal budi.

Misi Gereja dalam dunia adalah untuk memberi jawab terhadap keadaan situasi lingkungan budaya dll yang dihadapinya. Keadaan itu tidak selalu statis melainkan selalu berubah apalagi dalam situasi kekinian dimana perubahan itu berlangsung sangat cepat karena peran perkembangan ilmu dan teknologi informasi yang berkembang pesat. Gereja HKBP berada di dalamnya dan melayani sesuai misinya: menyatakan keselamatan melalui pemberitaan dan pelayanan. Misinya tetap tetapi berbeda-beda cara mewujudkannya. Menghadapi perubahan tersebut manusia sebagai makhluk berakal budi mendayagunakan potensinya untuk menaklukkan berbagai kesukaran dan mengerahkan segenap akal, karsa dan daya untuk membangun kehidupan yang sejahtera.

Di saat umat manusia mengusahakan kemampuannya dengan segenap tenaga sudah tentu akan mempengaruhi masyarakat. Ketika sekitarnya berubah berkat kemampuannya, manusia didorong pula untuk mengatasi masalah-masalah baru yang ditimbulkan. Semula manusia membentuk kenyataan tetapi ia tidak langsung tunduk pada penciptanya malahan memaksa manusia menata hubungan dengan sekitarnya. Sesudah itu berlangsung proses internalisasi dimana masyarakat meresapi dunia sekitarnya dan memikirkan kembali keberadaannya karena ia sekarang produk masyarakat yang telah berubah.


a.  Gambaran Umum

Penyebaran Injil di Tapanuli dibarengi dengan pendirian sekolah dan pembangunan klinik kesehatan. Berkatnya luar biasa bagi orang Batak yaitu terbentuknya persekutuan baru (gereja), menjadi warga terdidik dan memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik. Sebagai warga gereja yang sehat dan cerdas, orang Batak telah mengisi semua sektor kehidupan sehingga berhasil membangun hidup di kota-kota besar. Mereka telah menjadi produk aktivitas gereja; pada gilirannya masyarakat (baru) itu telah menjadi realitas, menjadi masyarakat yang dinamis dan suka akan kemajuan. Mereka tidak lagi merasa terikat dengan lembaga (HKBP) yang telah membentuk mereka mulai sejak awal. Pada tingkat kemajuan yang diperolehnya, mereka telah terasing dari dinamika induknya (HKBP). Mereka pun bergereja di gereja-gereja yang dianggap lebih maju atau mampu membuat mereka lebih maju atau lebih makmur dan memperoleh rasa nyaman digereja yang baru.

Pada dasarnya gereja adalah produk dari perkembangan baik oleh kegiatannya maupun oleh masyarakat luas lengkap dengan semua sarana, prasarana dan perangkat modern yang dimilikinya. Maka tantangan era baru dalam misi sebenarnya sudah lama inheren di dalam kehidupan kita. Di saat warga gereja HKBP memasuki dunia perkotaan mereka telah bergaul erat dengan dunia baru, masyarakat industri yang kemudian berhubungan menjadi masyarakat global. Tantangan sudah lama hadir di dalam kehidupan bergereja kita, tetapi kita ambil jalan aman, berpaling dari tantangan dan terus mempertahankan pola lama. Usaha menemukan pola baru tampaknya kurang diperhatikan. Banyak program disusun, bahkan cepat penyusunannya, tetapi terlalu cepat sebab tidak didahului pemahaman tentang corak zaman kita.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an gereja-gereja di Indonesia termasuk HKBP serentak menyuarakan keharusan gereja mempersiapkan diri memasuki era industrialisasi. Dan tidak lama kemudian dunia dihebohkan oleh globalisasi. Isu globalisasi telah menjadi fokus WCC sejak 1990-an. Hasil survei dan studi bertahun-tahun telah diterbitkan oleh WCC pada Sidang Raya 2006 di Porto Alegre Brasil yang dihadiri oleh utusan-utusan gereja di Indonesia. Dokumen yang diterbitkan itu berjudul Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth disingkat AGAPE dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi. Salah satu seruan AGAPE ialah ajakan agar gereja-gereja menjadi komunitas transformatif berdasarkan keyakinan bahwa tradisi Kristen bersama kearifan yang ada di dalam agama dan kebudayaan lain dapat memberi sumbangan menemukan alternatif lain menghadapi globalisasi.

b. Gambaran Khusus

Gereja berada di dalam era baru yang sebenarnya sangat berbeda dari yang dahulu. Gereja membutuhkan kesadaran. Yaitu kesediaan menjalankan pelayanan yang kreatif. Karena tanpa pengetahuan memadai tentang perubahan akan bagi gereja untuk merumuskan tantangan yang dihadapinya. Sebagai Gereja, HKBP mengemban tugas kenabian: mengajak jemaat melihat sekitar. Apa yang berubah dalam lima tahun terakhir di sekitar kita, di aras jemaat dan terus ke aras yang lebih luas. Dengan demikian gereja dapat menjalankan peranan kenabian memberi peringatan. Misi harus berjalan karena pencitraan gereja yang benar atas dirinya. Untuk menjaga "kekudusan", pelayanan dibatasi di dalam tembok gereja.

Untuk itu HKBP bermaksud untuk menyegarkan kembali ke dalam dirinya ucapan Tuhan Yesus bahwa gereja "bukan dari dunia tetapi diutus ke dalam dunia" (Yoh. 17:16-18). Karena itu seluruh kehidupan gereja HKBP adalah misi untuk tumbuh melalui keterlibatan dan aktivitas di dunia melalui proses transformasi sehingga mampu membawa perubahan dan mengalami realitas sosial. HKBP bersama masyarakat/jemaat menjadi subyek dan bersama-sama merumuskan arah transformasi. Khusus terhadap orang-orang tersisih, melalui program dan dialog gereja membantu penguatan martabat mereka dan sekaligus pemberdayaan. HKBP berjuang untuk mengatasi masalah dan menemukan peluang baru untuk pengembangan kehidupan rakyat/jemaat.

Globalisasi hanya bentuk fisik kehidupan sekarang. Tetapi bentuk non-fisiknya ialah cara pandang, sikap dan gaya hidup yang berbeda. Sementara generasi tua masih meyakini kekuatan budaya primordial tetapi yang muda telah memiliki cara pandang sangat berbeda. Cara bergaul manusia, mencerminkan telah terjadi perubahan definisi dan terus berlangsung dalam pikiran masyarakat.

Redefinisi semua konsep kehidupan (perkawinan, keluarga, budaya, penghayatan religius, pergaulan, seks, dsb). Warga gereja sudah bersifat kosmopolitan. Kesenjangan pola berpikir sangat besar di antara yang tua dan yang muda. Yang ironis ialah apabila terjadi kesenjangan antara gereja dengan warganya yang muda/remaja. Ini tantangan: bagaimana membangun komunikasi dengan generasi muda, generasi digital. Yang memprihatinkan pola pelayanan pendeta dan majelis cenderung korporatif: semua diatur dari atas (top-down) di semua aras! Akibatnya, Pendeta kehilangan kontak dengan anggota jemaatnya. Anggota gereja berpaling ke kelompok lain, atau kembali ke agama suku dan ada yang pindah agama! Menghadapi ini mentalitas yang "dikembangkan" ialah menyalahkan pendatang, seperti yang sering terdengar dari para pendeta dan tokoh HKBP. Cara pelayanan pendeta berkomunikasi masih dengan asumsi: pendeta paling tahu dan warga jemaat tidak tahu apa-apa. Mereka lupa gereja bukan lagi institusi super seperti zaman zending. Dunia sekuler yang dominan membentuk mentalitas masyarakat; gereja hanya salah satu dari sekian puluh lembaga yang dijadikan acuan kegiatan, oleh karena itu pendeta dan majelis yang harus belajar kepada anggotanya tentang realitas dunia agar tercipta komunikasi yang hidup, komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah akan melahirkan pandangan-pandangan segar. Gereja tidak boleh hanya "berpartisipasi" di dalam proses yang berlangsung (pembangunan) melainkan harus mampu merasakan penderitaan rakyat akibat investasi korporasi internasional di banyak kabupaten (di Sumut) sekarang ini. Dialog dengan rakyat (jemaat) menolong para pelayan gereja menemukan komunikasi yang tepat dalam menyampaikan firman Tuhan dan tahu menyusun program kerja yang mengena dengan situasi konkret.

III.  Beberapa isu popular sekitar pergumulan dan tantangan gereja ke masa depan.

Perjumpaan Gereja dengan agama lokal. Perjumpaan gereja dengan agama-agama suku merupakan salah satu hutang yang belum lunas. Terlepas apakah masih ada komunitasnya atau tidak jelas tampak bahwa budaya dan agama lokal tersebut hidup dibawah selimut gereja termasuk pengalaman HKBP, ia ada dan hidup dalam tradisi gereja. Untuk itu HKBP perlu menyadari ambigu kesadaran religiositas local yaitu aspek liberatif dan opresifnya.

Gereja dan Politik.
Sehubungan dengan panggilan profetis gereja untuk menyuarakan suara kenabian tampak bahwa HKBP tidak punya nyali untuk menyuarakannya. HKBP sangat berbeda dengan gereja-gereja lainnya terlebih yang berada di wilayah timur yang pada umumnya merupakan warisan pemerintah kolonial. Berbeda dengan HKBP yang merupakan warisan dari suatu badan misi sending Jerman tetapi kurang mandiri dalam memberikan suara kenabian terhadap kebijakan pemerintah. Faktanya bahwa tata gereja HKBP adalah tata hukum duniawi yang dibawa masuk ke dalam gereja. Tata hukum tersebut tidak dibangun murni dari pemahaman eklesiologi tetapi sistem hukum dunia yang dimasukkan ke dalam organisasi gereja. Sikap malu-malu kucing terhadap keterlibatan gereja dengan politik menjadi ruang dan jarak yang signifikan diantara tanggung jawab terhadap warga jemaatnya. Bukan menjadi rahasia umum jika banyak gereja tampak senang dekat dengan pemerintah daripada dekat dengan jemaatnya.

Krisis Ekologis.
Bumi semakin tua karena tidak ada yang tetap muda di dunia ini, juga karena perusakan-perusakan lingkungan yang dilakukan manusia. Perusakan dan pencemaran lingkungan oleh kegiatan penebangan hutan dan pertambangan. Kerusakan lingkungan, sungai, pantai dan laut. Berkurangnya daerah resapan air.

Kemajemukan Budaya dan marginalisasi komunitas asli masyarakat adat. 
Keragaman suku bangsa di berbagai wilayah pelayanan HKBP semakin diperumit oleh transmigran Jawa Bali yang secara besar-besaran dilakukan pada periode pemerintahan Orde Baru. Jika transmigran terlalu kaya cenderung mengakibatkan konflik sosial. Salah satu masalah lainnya adalah menguatnya identitas kesukuan dan marga yang berdampak pada berbagai kebijakan politik, ekonomi lokal.

Krisis SDM Kristen.
SDM Kristen yang tidak berkembang sehat, kaderisasi yang tidak terencana, “brain drain”, faktor kemiskinan, lembaga pendidikan kristen yang melemah, Pendeta tidak mengembangkan diri secara serius dibandingkan dengan jemaat di dunia sekuler. Ada juga kader potensial yang lebih suka pergi dan berkembang di daerah rantau tanpa tanggung jawab moral untuk memajukan kampung halamannya.

Pelayan gereja.
Mutu pengetahuan keterampilan dan komitmen para pendeta menyedihkan. Demikian juga pekerjaan di kampus, kurang berhasil karena kurangnya mutu dan keterampilan. Mengenai capacity building di HKBP, Pendeta tidak punya kesempatan untuk “continues education” setelah masuk jemaat. Gereja secara finansial lemah sehingga tidak membuat jaminan hidup pendeta sehingga mereka sibuk mengurus ekonomi dirinya dibandingkan dengan memperkaya pengetahuan.

Kegiatan Yang Dilaksanakan
Nama Kegiatan
: Tahun Penelitian Pengembangan HKBP 2012
Thema
: Efesus 5:10 “Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan” 
Jadwal
: Kegiatan Penelitian dilaksanakan Januari – Mei 2012


IV. Maksud dan Tujuan.

a. Maksud Kegiatan.

Melaksanakan amanah ompui Ephorus HKBP yang telah menetapkan tahun 2012 sebagai Tahun untuk mengevaluasi dan menyempurnakan pengembalian jati diri HKBP sehingga HKBP senantiasa menjadi berkat, garam dan terang dalam setiap perkembangan jaman.

Merencanakan program pendidikan bagi warga jemaat untuk mampu menggenapi janjinya kepada Tuhan sewaktu menjalani sidi dan sewaktu menerima pemberkatan pernikahan serta mampu mewujudkan peran dan tanggung jawab orang tua sewaktu membawa anaknya dibaptiskan.

Pemetaan isu strategis gereja dalam dimensi Sospolekbud, dimensi internal dan eksternal.

Dalam Dimensi Sospolekbud, yaitu agama-agama lokal, Hubungan Islam Kristen, Ketidak adilan struktural,, Gereja dan Politik, Krisis ekologis, Kemajemukan Budaya, Krisis Ekumene, Krisis Kualitas pelayan Gereja, Krisis Lembaga Pendidikan Teologi. Dalam Dimensi Pluralisme Internal dan Pluralisme Eksternal, yaitu Untuk menemukan berbagai Warisan/wawasan misi, SDM, Pengembangan Ekonomi jemaat, Keesaan Gereja/Ekumene, otonomi daerah, dll yang bersifat melemahkan atau menguatkan misi gereja HKBP.

Membangun organisasi gereja HKBP sebagai organ yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Yaitu memperkuat persekutuan, merawat kemajemukan, meningkatkan kualitas pelayanan/kesaksian dan memelihara lingkungan hidup.

b. Tujuan Kegiatan.

  1. Untuk Mengetahui Potret Pelayanan HKBP secara menyeluruh meliputi aspek aspek Tritugas panggilan Gereja yang ber-Koinonia, ber-Marturia, ber-Diakonia dan gambaran demografi warga jemaat serta proses berorganisasinya.
  2. Menemukan dan Mengatasi Problematika Pendirian gereja di perkotaan
  3. Menemukan dan Mengatasi Krisis SDM; Studi tentang SDM, Management dan Kepemimpinan Gereja.
  4. Menemukan fenomena ikatan sosial dalam jemaat serta solusi yang perlu dilakukan gereja.
  5. Menemukan kebutuhan tenaga dan fasilitas penunjang pelayanan HKBP selama 50 tahun ke depan.
  6. Menemukan dan Mempersiapkan kebtuhan infrastruktur pelayanan HKBP per periodik.
  7. Pengkajian ulang system pendidikan disemua lembaga pendidikan teologi HKBP.
  8. Pengadaan riset dan pengkajian yang matang tentang berapa tenaga pelayan penuh waktu yang dibutuhkan HKBP hingga 2061.
  9. Pengadaan riset dan pengkajian tingkat kepuasan dan kebutuhan jemaat terhadap pola pelayanan HKKBP dan pelayan tahbisan Pendeta, Guru Huria, Diakones dan Bibelvrow.
  10. Peningkatan dan pengembangan sekolah sekolah HKBP, termasuk universitas, rumah sakit, lembaga ekonomi masyarakat yang bermutu.
  11. Menghasilkan sebuah buku “Handbook” tentang “Study Jemaat” yang di rumuskan dari berbagai disain penelitian yang diterapkan oleh tim peneliti.
  12. Pengembangan Balitbang HKBP menjadi profesional.
  13. Kerja sama Universitas HKBP Nomensen dan Balitbang HKBP dalam tahun penelitian HKBP 2012 menjadi langkah awal membentuk lembaga study jemaat.


V. Tahapan Kegiatan

1.       Pembentukan Tim Peneliti
2.       Penetapan Pokok Penelitian
3.       Penetapan wilayah / spot Penelitian
4.       Penyususan TOR Penelitian
5.       Pembuatan Disain Penelitian
6.       Pembentukan Jaringan Peneliti
7.       Penelitian dengan berbagai Metode
8.       Survey
9.       Study Sekunder
10.    Observasi – Dll
11.    Seminar Laporan Penelitian dan Perumusan Hasil Seminar
12.    Penyerahan Hasil Penelitian kepada Tim RIPP (Renstra 2012)


VI. Bahan-bahan yang diharapkan membantu tim peneliti.



  1. Buku Penjelasan tentang Jati Diri HKBP yang di susun oleh Ephorus HKBP Pdt.DR.Bonar Napitupulu.
  2. Berbagai hasil seminar Panitia Jubileum 150 Thn HKBP di berbagai wilayah.
  3. Survey bekerja sama dengan Universitas HKBP Nommensen.
  4. Berbagai karya tulis para pendeta HKBP bidang M.Min dan D.Min sebagai hasil study Jemaat (Penelitian).


VII. Tenaga ahli dan Pembiayaan.

Dipersiapkan dan dilaksanakan oleh Universitas HKBP Nommensen


VIII. Penjadwalan.

Nopember 2011
Menyusun TOR setiap tema penelitian/ anggaran
Desember 2011
Design Penelitian, Jaringan peneliti, menyepakati cara kerja  tim peneliti
Januari 2012
Latihan Jaringan Peneliti dan Penelitian
Februari 2012
Penelitian
Maret 2012
Penelitian
April 2012
Penelitian
Mei 2012
Evaluasi, Seminar Hasil Penelitian dan perumusan
Juni-Agustus 2012
Keputusan Organisatoris oleh Tim RIPP/Renstra
September 2012
Keputusan Organisatoris oleh Ephorus dan Sinode Godang

Sumber :  HKBP Pearaja

Artikel Terkait Lainnya Seputar:



-----

0 komentar:

=============